• Document: PENSKORAN POLITOMI DALAM TEORI RESPON BUTIR MENGGUNAKAN GRADED RESPONSE MODEL (GRM) Kata Kunci: Item Respon Teori (IRT), Graded Response Model (GRM)
  • Size: 663.75 KB
  • Uploaded: 2019-06-14 02:14:14
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

PENSKORAN POLITOMI DALAM TEORI RESPON BUTIR MENGGUNAKAN GRADED RESPONSE MODEL (GRM) Azhar Rezky Wahyudi*, Anisa, Nasrah Sirajang Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Hasanuddin, Makassar 90245 *Email: azhar.skripsi@gmail.com Abstrak Dalam dunia pendidikan, untuk mengukur kemampuan seseorang dapat menggunakan alat ukur yang biasanya dalam bentuk tes. Dalam pendidikan matematika, terdapat bentuk tes yang umum digunakan termasuk tes pilihan ganda dan tes model uraian. Model dikotomi setiap butir dibagi menjadi dua kategori masalah yakni benar bernilai satu dan salah bernilai nol. Dalam skripsi ini menggunakan model politomi dimana permasalahan dibagi menjadi beberapa kategori (lebih dari dua kategori). Penelitian ini menggunakan desain kelompok paralel ekuivalen. Teori yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah teori respon butir (Item response Theory/IRT). Graded Response Model adalah salah satu model dalam IRT untuk memperkirakan kemampuan peserta tes dengan mempertimbangkan parameter peserta, tingkat kesulitan dan isi butir yang membedakan setiap masalah. Dalam skripsi ini, membahas kemampuan peserta tes pada ujian Mid semester mata kuliah matematika dasar yang diberikan kepada mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Hasanuddin tahun ajaran 2011/2012 dengan menggunakan Graded Response Model (GRM). Kata Kunci: Item Respon Teori (IRT), Graded Response Model (GRM) PENDAHULUAN Upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat ditempuh melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas sistem penilaiannya. Keduanya saling terkait, sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas belajar yang baik. Kualitas pembelajaran ini dapat dilihat dari hasil penilaiannya. Selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong pendidik untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi peserta didik untuk belajar lebih baik (Mardapi. 2008;5) Ada berbagai bentuk tes yang digunakan dalam pendidikan ataupun psikologi. Begitu juga bentuk tes dalam matematika yang misalnya berbentuk objektif dan uraian. Secara umum, pengukuran prestasi belajar pada mata kuliah matematika lebih sering menggunakan tes uraian dibandingkan tes pilihan ganda. Terdapat dua model ujian yang digunakan untuk mengukur keberhasilan peserta tes yaitu; teori ujian klasik dan teori respon butir. Teori ujian klasik bertujuan untuk melihat bagaimana respon dari peserta tes terhadap perangkat tes, sedangkan teori respon butir bertujuan untuk melihat bagaimana respon dari peserta tes terhadap tiap butir soal yang ada dalam perangkat tes. Pada dasarnya, teori respon butir ingin memperbaiki kelemahan yang terdapat pada teori klasik: yakni ketergantungan ukuran ciri butir kepada kelompok peserta dan ketergantungan ukuran ciri peserta kepada kelompok butir tes (Naga, 1992 : 160) 1 Teori respon butir dikembangkan atas tiga dimensi asumsi dasar. Menurut Hambleton, Swaminathan, & Rogers (1991: 9) dalam (Kana Hidayati, 2002) mengemukakan bahwa asumsi-asumsi yang melandasi teori respon butir yakni: a. Asumsi pertama adalah peluang menjawab benar suatu butir tidak dipengaruhi oleh peluang menjawab benar butir yang lain (independensi lokal). b. Asumsi kedua, tes mengukur satu dimensi kemampuan (unidimensi). c. Asumsi ketiga, pola respon setiap butir tes dapat digambarkan dalam bentuk kurva karakteristik butir. Hal yang terpenting di dalam teori respon butir adalah penentuan model respon atau karakteristik butir. Model respon harus memenuhi berbagai persyaratan seperti unidimensi, independensi lokal, dan invariansi parameter (Naga, 1992: 175). Teori respon butir membangun suatu model yang menghubungkan karakteristik butir dengan karakteristik peserta. Dengan sejumlah syarat tertentu, model hubungan ini dibuat agar berlaku secara bebas bagi kelompok butir dan kelompok peserta mana saja yang memenuhi syarat itu. Karakteristik butir dan karakteristik peserta dihubungkan oleh model yang berbentuk fungsi atau lengkungan grafik. Sejumlah syarat yang dimaksud dinyatakan dengan sejumlah parameter. Ada parameter butir dan ada pula parameter peserta (Susongko, 2009). Dalam penelitian ini menggunakan 2 parameter, yakni parameter tingkat kesukaran butir (b) dan parameter daya pembeda (a). Analisis tingkat kesukaran dimaksudkan untuk mengetahui apakah soal tersebut tergolong mudah atau sukar. Tingkat kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya sesuatu soal (Arikunto, 1999:2007). Menurut Allen & Yen (1979: 121), pembagian besarnya indeks kesukaran adalah sebagai berikut: 1. Soal dengan indeks kesukaran 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar 2. Soal dengan indeks kesukaran 0,31 sampai 0,70 adalah soal sedang 3. Soal dengan indeks kesukaran 0,71 sampai 1,00 adalah soal mudah Parameter lain yang ikut dianalisis dalam penelitian ini adalah parameter daya pembeda. Arikunt

Recently converted files (publicly available):