• Document: BAB I PENDAHULUAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang dan tujuan penelitian.
  • Size: 98.21 KB
  • Uploaded: 2019-04-16 14:00:33
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang dan tujuan penelitian. 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi di bidang farmasi begitu pesat, termasuk pengembangan berbagai macam bentuk sediaan farmasi. Salah satu bentuk sediaan yang sudah ada di masyarakat dan banyak disukai adalah bentuk tablet. Keuntungan sediaan tablet yaitu memungkinkan pembuatan dosis yang tepat, mudah dalam pengemasan dan pengiriman, menghasilkan produk akhir dengan berat dan bentuk tablet yang sama, pada umumnya tablet lebih stabil daripada sediaan likuida, pelepasan obat dari tablet dapat diatur untuk pencapaian efek farmakologi (Collett & Moreton, 2002). Macam-macam sediaan tablet adalah tablet kompresi, tablet kompresi ganda, tablet salut gula, tablet salut selaput, tablet salut enterik, tablet hisap, tablet sublingual atau bukal, tablet effervescent, tablet hipodermik, dan tablet dengan pelepasan terkendali (Ansel, 1989). Salah satu perkembangan teknologi farmasi yang telah beredar di masyarakat adalah bentuk sediaan tablet lepas lambat. Bentuk sediaan lepas lambat dapat dirancang sedemikian rupa sesuai kehendak formulator, mulai dari waktu dan kecepatan pelepasan zat aktif yang dimodifikasi. Dengan demikian satu unit dosis tunggal dapat melepaskan sejumlah obat segera setelah pemakaiannya, namun mampu terus-menerus melepaskan sejumlah obat lainnya untuk mempertahankan efek terapeutik selama periode waktu yang diperpanjang, umumnya 8-12 jam (Ansel, 1989; Collett & Moreton, 2002). Sediaan lepas lambat banyak disukai oleh masyarakat, karena efek 1 2 terapeutik dapat dipertahankan dalam jangka waktu yang panjang dan efek samping obat lebih kecil. Keuntungan ini tidak dapat diberikan oleh sediaan tablet konvensional (Siregar, 1992). Keuntungan lain dari sediaan tablet lepas lambat ini adalah menghasilkan kadar obat dalam darah yang merata tanpa perlu mengulangi pemberian dosis. Hal ini dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam pemakaian obat (Ansel, 1989; Collett & Moreton, 2002). Pada umumnya obat yang paling sesuai untuk diformulasi dalam bentuk sediaan lepas lambat adalah obat yang memiliki waktu paruh singkat, interval waktu pemberian dosis relatif singkat, dan dosis sekali pemberian besar (Ansel, 1989). Pada penelitian ini digunakan metformin hidroklorida suatu obat anti diabetes mellitus. Diabetes melitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia. Kondisi ini timbul sebagai akibat kurangnya sekresi insulin, daya kerja insulin yang menurun atau dapat keduanya (Teixeira et al., 2000). Sejauh ini, diabetes diidap oleh 2-3 % dari total populasi dunia (Felig and Bergman, 1995). Indonesia sendiri, tercatat sebagai negara dengan populasi penderita diabetes mellitus terbanyak ke-6 di dunia menurut data “International Diabetes Federation” (IDF) tahun 2003. Pada saat ini diperkirakan minimal terdapat 4-5 juta penduduk di Indonesia menderita penyakit diabetes mellitus (Tjokroprawiro, 2007). Metformin hidroklorida yang merupakan obat hipoglikemia oral golongan biguanida, bekerja dengan memperbaiki sensitivitas hepatik dan periferal terhadap insulin tanpa mnstimulasi sekresi insulin serta menurunkan absorpsi glukosa dari saluran lambung-usus. Dosis metformin HCl adalah 500 mg, 850 mg, 1000 mg, dua sampai tiga kali sehari dengan waktu paruh yang pendek yaitu 2 jam. (Martindale edisi 28, 1982). 3 Pada penggunaan dosis tunggal oral metformin HCl secara lepas lambat (Glumin XR, Glucophage XR), konsentrasi maksimum obat dicapai pada sekitar 7 jam dan (4-8 jam). Kadar plasma puncak kira-kira 20% lebih rendah bila dibandingkan dengan pemberian metformin HCl dalam bentuk sediaan konvensional pada dosis yang sama. Namun demikian jumlah obat terabsorpsi (diukur dengan AUC) sama dengan jumlah metformin HCl terabsorpsi pada sediaan konvensional. Setelah pemberian berulang, Glumin XR atau Glucophage XR tidak terakumulasi di dalam plasma, walaupun jumlah metformin HCl terabsorpsi dalam sediaan lepas lambat meningkat kira-kira 50%. Pemberian obat bersama dengan makanan tidak mempengaruhi Cmax dan tmax metformin HCl. Dosis metfomin HCl untuk sediaan lepas lambat adalah 500 mg dengan pemberian dua kali sehari. Sediaan dengan pelepasan atau aksi dipertahankan, merupakan bentuk sediaan yang mula-mula melepaskan zat aktif dalam jumlah yang cukup untuk mendapatkan ketersediaan hayati yang dikehendaki atau untuk menimbulkan efek farmakologi secepatnya, dan selanjutnya dapat menjaga aktivitasnya dalam waktu yang lebih lama daripada obat yang diberikan dalam dosis tunggal. Dengan demikian sediaan lepas lambat dapat mempermudah pengaturan dosis dan menurunkan frekuensi pemakaian obat. Hal ini dapat meningkatkan kenyamanan penderita dan mengurangi resiko kesalahan atau kelupaan

Recently converted files (publicly available):